Thursday, October 23, 2014

(mommies journal) Ayah Tahu, Kok!

Disclaimer dikit: *tahu di judul adalah kata dasar dari mengetahui, bukan nama makanan :D

Jaman pacaran, kriteria calon suami idaman adalah agamanya baik, nyambung ngobrol sama saya, pinter, ganteng, lucu, asik diajak makan bareng, de-el-el de-el-el yang pokoknya pada intinya adalah memiliki apa yang saya suka atau perlukan. Gak kepikir kalau setelah jadi suami bakalan jadi ayah dari anak-anak saya. Berarti saya kurang dong mikir soal calon suami, mestinya mikir juga apakah pacar juga calon ayah yang baik buat anak-anak saya kelak? Haha...ya namanya pacaran (apalagi jaman bocah) mana kepikir sejauh itu. Paling di otak cuma mikir he's the right men for me, bukan he's the right father for my children, hahaha. Padahal pernikahan kan memerlukan kepala keluarga yang baik dong, bukan cuma jadi soulmate perempuan doang.

Alhamdulillah saya ketemu sama si Mas. Walopun pas pacaran gak mikir apakah Mas bakal jadi ayah yang baik ato enggak, tapi emang sih ya, he's a nice person jadi ujung-ujungnya pas diajak merried ya ayok ajah hihihi. Pas punya anak dan ternyata perempuan malah saya sempat khawatir karena biasanya kan seorang ayah pengen punya anak pertama laki-laki. Ternyata saya salah, saat baby Na lahir, kasih sayangnya sebagai ayah tetap tanpa cela. Bahkan sekarang masih banyak hal yang saya kalah dalam hal jadi orang tua. Apa itu?

Dalam beberapa hal, Mas jauh lebih peka soal Na. Ada aja hal unik yang saya gak kepikir walaupun saya ibu yang nungguin Na 24 jam sehari!
Misalkan suatu ketika baby Na menolak MPASI-nya, Mas bilang, "Dia gak mau disuapin pake sendok Bun, pake tangan aja." *rite
Ketika Na gak mau pake dress yang saya pilihin untuk dia pakai, "Dia gak mau warna baju yang ini, coba kasih yang warna ini nih." *rite again
Ketika Mas mampu membuat baby Na tertawa lepas saat bermain ci luk ba,
Ketika Mas mampu membuat baby Na lonjak-lonjak waktu melihat sekumpulan burung terbang di pagi hari,
Ketika Mas tahu Na sedang masuk angin yang menyebabkan wajahnya pucat,
Ketika Mas bisa menebak kenapa baby Na mendadak menangis,
Ketika Mas tahu permainan apa yang sekiranya akan disukai Na,
Ketika Mas mampu membuat Na mendengarkan dongeng yang ia bacakan,
dan banyak hal-hal kecil yang mungkin gak bisa saya pikir untuk saya lakukan...#apa naluri ke-emak-an gue terlalu terbatas ya?

Bahkan menurut saya, walaupun saat ini hanya bertemu Na dari Jumat~Minggu, namun Mas mampu membuat 3 hari seminggu itu lebih berwarna dan berkualitas dibanding saya yang mungkin ada bersama Na 7 hari seminggu. Ya karena tadi, ada hal-hal yang dimilikinya yang berarti bagi Na yang gak saya miliki. Naluri ayah.

Karena itu saya setuju sama kalimat di artikel ini, bahwa seorang ayah selalu punya cara tersendiri untuk memahami dan menyayangi anak-anaknya. Naluri yang terbentuk bahkan tanpa harus membawanya kandungan 9 bulan atau menyusuinya selama 1 taun. .They have their own instinct, as a man, and as a father...



So thanks for being my husband,
Thanks for being our chil(dren)'s father, the best father


:D

0 komentar:

Post a Comment

thanks for stopping by

 
catatan Miss Putri Blogger Template by Ipietoon Blogger Template