Saturday, December 31, 2016

(mommies journal) Pengalaman Menyapih Anak

Kali ini saya ingin menulis cerita tentang menyapih anak. Karena sudah memiliki dua anak maka sudah dua kali pula saya melalui yang namanya menyapih bayi. Namun, sebelumnya saya ingetin postingan ini bukan berarti memberi tips untuk menyapih bayi ya, karena menurut saya cara menyapih saya sih kayaknya gak sepenuhnya bener hehehe. Apakah saya menyapih sesuai teori? boro-boro deh, hehehe... Apalagi dibilang saya ngikut metode Weaning with Love (WWL) yang biasanya diidentikkan sebagai metode terbaik menyapih anak dan para ibu yang sukses WWL sih biasanya puas banget bisa menerapkan teori ini. Tapilah apalah daya saya yang seringkali tidak bisa menerapkan teori di praktek parenting ini, hihihi... Makanya saya bilang cara saya sih gak ideal. Namun saya ingin menulis pengalaman saja kok. Monggo kalau yang mau baca ya,

1. Menyapih Na




Na sebenarnya tersapih karena kondisi. Pada saat itu umur Na sekitar 1,5 tahun dan kondisi saya saat sedang hamil 6 bulan. Jadinya sih saya merasa ASI saya kala itu udah makin menipis. Ditambah nafsu makan Na yang kurang karena lebih doyan ngempeng ASI daripada makan, maka ibu mertua saya menyarankan Na disapih saja. Dan kebetulan pada saat itu mas Suami dioperasi dan dirawat inap di RS di luar kota. Keluarga besar memutuskan saya saja yang mendampingi mas Suami sementara Na tinggal sementara di rumah mertua saya selama sekitar 3 hari 4 malam. Jadilah Na tidak bersua saya selama hampir 4 hari sehingga Uti-nya sekalian ngajarin dia supaya gak usah nenen lagi.

Sekembalinya saya pulang dan bertemu Na setelah beberapa hari, rasanya sediiih gitu liat Na yang kayaknya kangen banget sama saya. Tapi eh udah gak bisa nenen lagi karena saya lanjutkan saran dari ibu mertua supaya melanjutkan proses menyapih Na. Jadi awal-awal Na tidur sama saya, dia kayak sedih banget gitu, Bundanya udah datang tapi ternyata udah gak boleh nenen lagi.

2. Menyapih Ka



Ka baru saja selesai proses menyapih. Dia tersapih di usia 2 tahun lebih 1 bulan. Metodenya sih gabungan antara sounding sama maksa, hehehe. Jadi awalnya sebulan sebelum hari H penyapihan, saya sih udah mulai mengurangi frekuensi ASI untuk Ka. Sampai H-7 saya mulai bilang, "Mimik ASI-nya udah tinggal sebentar lho dek, abis ini gak mimik lagi soalnya adek udah besar..." Ya walaupun gak yakin juga sih dia ngeh ato kagak, hahaha

Yang heboh tentu saja akhirnya di hari H. Paling masalah adalah saat tidur malam karena itu pertama kalinya dia harus tidur tanpa nenen. Ka nangis? iya. Ka marah? pasti. Dan bikin serumah heboh (pas itu saya sapih saat liburan mudik setelah UAS, hoho abisnya jaman masih kuliah saya kuatir kagak sanggup ngehadapin bayi rewel). Dan akhirnya hari itu butuh waktu hampir sejam untuk membuat Ka tertidur.  Itupun tengah malam dia terbangun dan tentu rewel lagi karena pengen nenen. Namun Alhamdulillah kok hal tersebut cuma berlangsung 2 malam saja. Di malam yang ke-3 mendadak Ka seolah paham omongan saya, "Ayo dedek tidur sendiri kayak kakak, gak pakai mimik gakpapa..." Waktu itu ganti pas gantian nginep di rumah ibu saya. Hihihi, jadinya waktu itu sekamar ada saya, ibu saya, Na dan Ka. Nah semuanya tidur jejeran gitu, dan Ka mau ikut-ikutan tiduran di bantal. 5 menit, 10 menit, 15 menit...eh lha kok ternyata si Ka beneran ketiduran lho ikutan kakaknya, Na. Dan semenjak hari itu sukseslah Ka disapih tanpa acara rewel lagi.

*****

Nah, begitulah proses menyapih yang sudah saya alami. Ah, semua ibu menyusui pasti tahu betapa berharganya fase menyusui. Masa dimana memberikan cairan 'emas' ke bayi dan berdekatan dengan bayi yang memberi bonding antara ibu-anak. Dan di saat proses menyapih dilakukan, sebenernya sih yang mewek bukan cuma anaknya, tapi juga ibunya, hehehe. Hayooo, buibu lain gitu juga nggak?

Dan keputusan saya untuk meyapih tentunya berdiskusi dulu dengan mas Suami, untuk mencapai kesepakatan bersama kapan yang tepat untuk menyapih anak. Karena peran ayah juga penting untuk menyapih. Misalnya menggendong anak yang rewel karena merasa 'kecewa' (gak dikasih ASI lagi) sama ibunya, hehehe. Butuh para gentleman buat mengatasi kondisi seperti ini. Darling, i love u very much :*

Untuk alasan lain kenapa saya memilih menyapih anak daripada membiarkan sampai si anak tidak mau minta nenen lagi tanpa batasan adalah,

sumber : http://www.caraspot.com/pandangan-islam-soal-menyusui-dan-waktu-menyapih-anak.html

sumber : http://www.caraspot.com/pandangan-islam-soal-menyusui-dan-waktu-menyapih-anak.html

Selain itu saya juga pernah membaca artikel bahwa memang perintah dalam Islam menganjurkan menyusui sampai 2 tahun karena ada enzim pada manusia yang memang optimal dalam mengolah ASI hanya sampai usia 2 tahun, sehingga di atas usia 2 tahun ASI tidak terlalu berguna lagi untuk tubuh. (pssst ditambah ada alasan lain sih, kayaknya saya mulai gendut dan harus diet lagi, hehehe)


Begitulah yang bisa saya tuliskan di sini. Nulis panjang-panjang ntar mewek lagi deh. Soalnya dengan sesi menyapih dalam kehidupan parenting, kita akan menyadari ada titik di mana kita diingatkan, bahwa anak kita ternyata makin tumbuh dan makin besar...betapa cepat waktu berlalu.

anak-anak tersayang... tumbuh sehat, ceria, dan bermanfaat untuk agama yaa

Sampai jumpa lagi di tulisan mommies journal yang lain ya! Always be a happy mommies yaaa!


0 komentar:

Post a Comment

thanks for stopping by

 
catatan Miss Putri Blogger Template by Ipietoon Blogger Template