Friday, April 26, 2013

(random note) Peduli pada Fasilitas Umum?

Di kantor saya, satu ruangan diisi oleh satu departemen yang terdiri dari beberapa divisi (total ada 4 divisi dengan jumlah orang sekitar 30an). Ada 1 set printer warna & 1 set printer hitam putih yang dipakai bersama-sama. Namun karena dipakai bersama-sama itulah sering terjadi masalah.

Suatu ketika saya butuh mencetak surat dengan kop surat berlogo perusahaan. Namun saat saya cetak ternyata logo perusahaan yang semestinya berwarna biru malah jadi berwarna merah. Baru deh saya sadar kalau toner printer warna sudah habis. Akhirnya saya tanya-tanya deh ke divisi lain (yang sekiranya sering pakai printer warna) apakah punya stok atau tidak. Eh ternyata semuanya dengan enteng bilang kalau mereka gak pernah ngurusin toner printer itu (padahal mereka pakai setiap hari & bertahun-tahun karna semua lebih senior daripada saya). Semua menjawab seperti tidak peduli dengan kondisi printer tersebut. Akhirnya ada teman yang memberitahukan pada saya cara repurchase toner tersebut. Dan karna gak ada yang mau ngurus soal toner, jadinya saya deh yang ngurus pembeliannya. Dan eh, kaget juga saya, karna selama beberapa tahun terakhir yang mengurus pembelian toner hanya ada 1 orang (itupun saat ini dia sudah resign sehingga pantaslah tidak ada yang peduli dengan printer itu). Owalaa.... Padahal setau saya, dia juga bukan orang yang diberi tanggung jawab mengurus masalah printer, bahkan termasuk orang yang tidak terlalu sering menggunakan printer warna.


Baru deh saya sadar, ternyata di sekitar kita masih banyak yang tidak peduli pada fasilitas umum. Semua ingin menggunakan, tapi saat memelihara semua lepas tangan seolah tidak memerlukan fasilitas sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir urusan pesan toner kan tidak keluar biaya pribadi lho, hanya agak 'repot' tenaga ketik untuk membuat Approval pembelian dan telepon orang IT untuk membantu pemasangan toner. Itu saja. Tapi ternyata dalam 4 tahun terakhir hanya seorang yang peduli....


Dan lucunya, pada akhirnya masalah belanja-belanja alat tulis memang menjadi masalah sensitif di departemen saya (walau gak sampai mengganggu hubungan pertemanan sih). Misalkan saya di divisi A sedang punya stok kertas banyak dan ada orang di divisi B yang kehabisan stok kertas. Awalnya saya sih santai saja memberikan sebagian kertas saya untuk divisi B. Pikir saya toh untuk kepentingan kantor dan kertas ini juga dibeli kantor. Eh tapi kenyataannya saat saya kehabisan kertas, rekan di divisi B tetap selalu berkata kalau masih gak punya kertas (entah malas belanja atau belanja dalam jumlah sedikit jadinya pelit ke yang lain). Alamaaak karena hal tersebut terjadi lebih dari 2 kali, sejak saat itu saya jadi ngumpetin stok alat tulis saya mulai kertas, gunting (karna kalau dipinjamkan kembali dalam posisi lengket penuh selotip), lem, ballpoint, dll. Dan uniknya problem ini juga selalu terjadi di aspek lain. Mulai dari saling lempar saat mesin laminating rusak (berujung pada saya yang memilih Approval penyediaan mesin laminating sendiri khusus untuk staf saya yang juga saya umpetin dan hanya dipinjamkan dengan syarat tertentu -gak boleh rusak-), masalah pengisian kertas di printer fax (saya yang anti buang kertas ya, jadi kertas salah cetak ato gak terpakai bagian belakangnya yang kosong saya manfaatin untuk ditaruh di printer fax), dan lain-lain.

Kadang sebal juga sih melihat gak semua teman peduli pada fasilitas bersama. Tapi rasa itu kalah melihat fasilitas tersebut jadi terbengkalai. Saya rasa memang ada yang harus berbesar hati untuk peduli pada yang lain, bukan begitu? Walau memang resikonya semua jadi lepas tangan sih...tapi...bagaimanapun posisi memberi lebih baik daripada menerim bukan? Dan perbuatan baik saya rasa tidak akan sia-sia.

# Semoga bisa selalu sabar sih hehehe...karena kalau saya jengkel saya khawatir tertular sifat yang sama juga sih :P

0 komentar:

Post a Comment

thanks for stopping by

 
catatan Miss Putri Blogger Template by Ipietoon Blogger Template