Monday, November 07, 2016

(random note) 28 tahun di 4 November



Kalau jaman masih anak-anak sampai abege, kayaknya momen ulang tahun itu menyenangkan sekali. Begitu datang tanggalnya, pada heboh deh. Soalnya memang harapannya adalah : makin tambah gede. Makin nambah umur makin hepi secara pada ngarep segera lebih dewasa. Misalnya nih, yang masih anak-anak pasti senang kalo umurnya nambah, soalnya berarti mereka akan tumbuh lebih besar, lebih tinggi, segera naek kelas dan bisa jadi dokter meraih cita-citanya. Apalagi yang kebiasaan dikasih kado pas ultah, wah momen ultah pasti jadi momen yang ditunggu. Sedangkan untuk yang remaja pun demikian, seneng banget saat momen nambah umur tiba. Tandanya selain badan bertambah tinggi, besar, seksi (LOL), mereka akan biasanya akan merasa semakin mendekati umur-umur diberikan kepercayaan lebih dari ortu. Misalnya nih, izin untuk belajar mengendarai motor atau mobil, boleh pergi sendiri tanpa diantar, boleh kuliah di luar kota, kerja di ibukota, dan lain-lain. Belum lagi yang sering dapat surprise ala-ala abege gaul SMA (semacam dikasih kejutan di kelas, dapat ucapan selamat dari banyak teman), maka momen ulang tahun menjadi momen yang seru dan menyenangkan untuk disambut


Trus gimana kalau yang ulang tahun 'udah berumur' (uhuk-uhuk kuenceeeng). Bukannya malah berasa nambah umur, tapi yang ada berasa berkurang nih umur! (juga bakalan berkurang isi dompet secara kalo makin tua bukannya dibanjiri kado tapi malahan dibanjiri tagihan traktiran) Dalam hati langsung ngebatin, "wah, makin tua aja gue sekarang!".

Dan... akhirnya tanggal ulang tahun bukan menjadi hal yang spesial, menjadi hal yang biasa saja. Tak ditunggu tapi juga tak terhindari (ya iyalah gimana emang caranya kabur dari kalender?) Malahan menjadi hal yang suatu pengingat kewaspadaan diri. Umur berkurang saatnya makin memperbanyak introspeksi. Saatnya perbaikan diri. Supaya sisa umur ke depan tidak menjadi sia-sia.



Itu pula yang ada di pikiran saya beberapa hari lalu saat akhirnya usia saya mencapai usia 28 tahun. Pikiran pertama adalah...whuaaa, dua tahun lagi umur gue bakalan kepala 3 dong?! (mana-mana-mana krim anti-aging???) Rasanya PR-PR kehidupan saya belum tuntas semua. Masih banyak banget hal-hal yang saya rencanakan belum terealisasi sampai saat ini. Masih banyak banget tanggung jawab yang saya emban sebagai anak, istri dan ibu yang belum saya kerjakan dengan baik. Padahal umur makin menggerogoti... Belum pula hubungan saya dan Sang Pemilik Kehidupan. Sudah seberapa besarkah peningkatan keimanan saya terhadap Allah SWT? Berapa banyak ibadah yang saya jalankan? Berapa banyak dosa yang masih berceceran? #sedih

Tapi ya entah hepi atau sedih saat datangnya hari-H, bagaimanapun tanggal ya itu teteeup aja datang, hehehe. Jadi tadaaa..., now I'm 28 years old. Makin tambah umur. Makin harus banyak perbaikan yang harus dihadapi di dalam hidup. Makin banyak ibaadah harus ditambah dong. Amiiien!

Dan betewe, tanggal lahir saya kan 4 November nih, dan kebetulan di tahun 2016 ini kemarin ada momen spesial yang amat viral di Indonesia. Ya, aksi damai 4-11 yang mengguncang negara karena dilakukan jutaan umat Islam di ibukota negeri ini. Begitu banyak pro-kontra yang berseliweran di media sosial, terutama FB. Saya sendiri termasuk pendukung aksi ini, karena saya meyakini perkataan terkait agama apalagi kitab sucinya haruslah dilakukan dengan berhati-hati, apalagi untuk orang yang tidak berkepentingan. Kitab suci saya ini berisi seluruh firman pemilik hidup saya. Itulah alasan saya. Apalagi sebagian besar ulama yang saya yakini pemahaman agamanya juga ikut aksi ini. Apabila mereka yang ilmunya lebih dalam daripada saya saja menganggap aksi ini layak dilakukan, tentunya saya gak punya alasan lagi menolak aksi ini.



Terkait mereka yang menolak aksi ini, selagi mereka tidak mencibir saudaranya yang sedang aksi damai sih gak masalah ya. Toh mau bagaimana lagi, isi kepala setiap manusia di dunia ini tak akan bisa persis sama. Tapi jujur sih saya mulai gatel pengen ikutan nulis kalimat defensif sewaktu melihat mereka yang mencibir atau mencurigai yang enggak-enggak soal aksi ini. Apalagi kalau mereka ini juga ngakunya muslim. Lah yo rek...tegone yo,

masa sih tega bilang orang sebanyak itu pasukan bayaran (enggak pada malu ya, ada lho pedagang kaki 5 yang malah ikut mensedekahkan makanan dagangannya untuk para pengikut aksi damai)

masa iya tega mencurigai mereka akan melakukan aksi merusak (padahal akhirnya terbukti bahkan tim pembersih sampah pun mereka sediakan, orang beragama lain yang lewat di daerah sekitar aksi pun tak mereka usik, bahkan saat perusuh di malam hari ditangkap pun diketahui bukan peserta aksi - melainkan sekedar provokator bayaran)

tega sekali suudzon sama saudara sendiri, padahal terlibat atau mengetahui detail aksinya pun tidak.

Ada lagi yang bilang seolah mencibir para peserta aksi damai itu para pengangguran kurang kerjaan, masalah kecil seperti ini kok dibesar-besarkan, emang gak ada urusan lain?
Awalnya saya hampir berpikiran seperti itu, saat kemudian saya mulai menganalisis seperti apa alasan mereka yang mendukung aksi ini. Saat itulah saya tersadar, agama memang tidak perlu dibela, tapi saya yang harus membela agama saya. Tuhan saya  yang sudah Maha Besar tak perlu dibela, namun saya hambanya yang kecil ini yang justru membutuhkan ridho-Nya. Lagipula aksi ini bertujuan supaya tersangka penista agama diproses secara hukum bukan? Bukan menuntut penghakiman tanpa proses hukum resmi.

Dan yang paling saya sebel sih yang bilang seolah para peserta aksi damai itu pengangguran. Aduuuh pak, bu, seandainya njenengan tahu... saya merasa kecil saat melihat beberapa profil mereka yang ikut aksi. Ada yang pemilik pondok pesantren besar, yang memberikan berbagai beasiswa untuk murid-muridnya. Ada yang pemilik panti asuhan dengan ratusan anak yatim yang didalamnya dididik sebagai hafidz/ hafidzah Qur'an. Ada yang pencetus gerakan-gerakan sosial yang sedang viral seperti
program Makanan Gratis setap hari untuk ratusan kaum dhuafa, gerakan menyantuni kaum janda dan anak-anak putus sekolah. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Biarlah...

Hal ini juga menjadi pembelajaran besar untuk saya.

Selain itu, sejak itu saya mulai berpikir panjang setiap akan menuliskan sesuatu. Apakah benar hal yang akan tuliskan?
Apakah tulisan saya akan menyakiti hati orang lain?
Karena ternyata membaca sesuatu yang tidak sesuai hati nurani terkadang cukup menyakitkan hati. Apalagi bila di dalamnya terselip kata-kata kotor, makian, bahkan misuhan... Astagfirullah.

Ya, refleksi cukup besar muncul di diri saya saat ulang tahun saya kebetulan bersamaan dengan aksi 4-11 ini. Semoga memberikan pembelajaran saya terutama hal tulis-menulis dan berkata-kata. Saya juga harus mulai berpikir, apa sih yang sudah saya kontribusikan ke orang lain, ke masyarakat, ke lingkungan, ke agama? Jangan-jangan selama ini saya hanya seorang manusia egois yang hanya memikirkan kehidupan sendiri saja...

Dan selain itu nampaknya saya masih harus belajar 1 (satu) item kehidupan lagi yang amat berat. Kesabaran. Tentang keikhlasan saat  sesuatu milik kita hilang. Ya, kebetulan uang saya ada yang hilang. Bagi sebagian orang memang itu jumlah yang kecil, namun bagi saya kali ini berarti cukup besar. Hiks, hiks, saya sedih...


Pada akhirnya, selalu begitu. Menurut saya hidup ini memang berisi berbagai pelajaran. Harus selalu ada yang dipelajari, harus selalu ada yang diperdalam. Semoga dengan bertambahnya umur saya, saya makin dapat mengambil banyak hikmah kehidupan, dan semakin berbahagia di dunia maupun di akhirat nanti.

Sekian. Selamat ulang tahun juga untuk Ashanty (hihihi, iya kalo dese mah ultahnya dirayain, diliput acara inpotainment)


anak-anak berniat kabur dari acara foto bersama

yang penting mereka satu frame, LOL


PS : Terima kasih untuk Papi-Mami, atas kasih sayangnya selama ini (tambahan untuk Mami, makasih ikan bakarnya :D :D :D sangat menambah first experience ngebakar ikan di dapur sendiri)
Untuk adek-adek juga, makasih lhooo...cup-cup-kecup
Untuk mas Suami tersayang-terkasih-tercinta, i love u, kamu selalu menjadi kado terindah dari Allah SWT sepanjang hidupku!
Untuk Na dan Ka, terima kasih ya menjadi pengisi dan pelengkap hidupku.


Disclaimer : buat yang merasa jenuh dengan topik aksi damai 4-11, ya sabar lah bro dan sis, namanya juga peristiwa yang lagi happening ini, wajar lah dibahas dimana-mana...semacam lagi Lebaran ya bahasannya minal aidzin wal faidzin beserta info mudik, masak mau bahas kegiatan Agustusan? dan semoga sih kalau bahas-bahas topik apapun gak saling mencibir... saya percaya kalau mengungkapkan pendapat baik-baik bisa saling menerima...that's named 'toleransi'

    

0 komentar:

Post a Comment

thanks for stopping by

 
catatan Miss Putri Blogger Template by Ipietoon Blogger Template